“Detik ini kujalani dengan hati tegar. Merasa tegar dan tegar. Walau begitu banyak haling rintang yang muncul diberbagai seluk kehidupan ini. Aku sadar akan dunia ini. Dan aku sadar BAHWA kau ditakdirkan BUKAN untukku, melainkan untuk orang lain diluar sana. Aku sadar kalau aku nggak akan mungkin jadi milikmu. Tapi tetap dari diriku, dari hatiku terdalam bahwa cinta ini cuman ada satu. Dan cinta itu tulus kuberikan untukmu. Nggak ada yang lain. Nggak ada cabang dihatiku.
Kamu begitu membuatku bertanya-tanya. Dan pertanyaan-pertanyaan yang muncu itu, membuatku tambah SUKA padamu. CINTA padamu.
Rasa sakit hati ini telah biasa mengalir dalam hatiku. Rasa sakit yang amat sakit. Sakit yang nyesek. Membuat banyak luka goresan yang selalu tertinggal dihati ini. Walau begitu aku terima. Aku coba satu persatu, perlahan demi perlahan untuk mengobati rasa sakit itu karenamu.
Mungkin kamu tak tahu, dan BENAR-BENAR tak tahu. Yah… ini memang sebuah KESALAHANKU. Kesalahanku dalam mencintai dirimu, menyayangi dirimu. Dan pasti kamu belum tahu, cintaku padamu seluas langit yang takberhujung dan semisterius angin yang tak pernah member tahu kapan ia akan bertiup. Cintaku padamu bagai debu yang tercecer karenamu. Karena kelakuanmu terhadapku, membuat cinta ini tercecer-cecer dimana saja. TAPI walau cinta ini tercecer, CINTA ini nggak akan pernah habis untukmu. Namun, sampai kapan rasa ini berakhir? Selasai? Mungkin kamu tahu betapa sakitnya hatiku, bagai sebuah sinetron atau cerita roman. MUNGKIN juga bisa begitu, melainkan hal itu memang benar-benar terjadi padaku. Pada seorang yang selalu tersakiti, seseorang tanpa kepastian. Entah apa isi dalam hatimu. COBALAH tuk mengenalku, walau hanya dalam sebatas pertemanan. Aku ulang kembali kata itu, ‘Mungkin aku yang bodoh. Yang salah mencintai padamu. SALAHKU untuk diam-diam mengagumimu.’ Tapi aku ingin mendapatkan lebih dari sekedar kekaguman. Aku ingin kamu membalas rasa itu padaku. Ya… ingin sekali. MUNGKINKAH itu terjadi? Dengan diriku seperti ini, tidak ada rasa percaya diri sedikit pun untuk ucap kata itu padamu. Dan bersama itu muncul pertanyaan-pertanyaan besar lain. Hingga membuat diriku seperti ini dari dulu sampai saat ini, dan entah kapan lagi….” Nesa tuliskan ungkapan hatinya disebuah buku kesayangannya.
Sampai waktu merangkak pasti hingga kini, Nesa masih merasa bimbang. Antara sebuah pertahanan dan sebuah kata “lupa”. Begitulah apa yang diresahkannya saat itu. Memang benar, ada hal-hal lain yang mendukung kedua pilihan itu.
DRAAAKKK!!!
Lamunya terusik akibat suara mencengang itu. Nesa yang baru saja memikirkan “mister R” kini tersadar kembali dalam dunia nyata. Sesuau terjadi didepannya.
“Hah? Apa itu?,” gumamnya dalam hati.
Jantung Nesa berdebar tak kunjung berhenti. Ia kemudian memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba muncul dibenaknya.
“Suara?”
Dilihatnya kedepan ternyata terjadi tabrakan yang baru saja ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri sebagaimana kejadian itu berlangsung. Untung saja ia tidak mengalaminya.
Nessa berada dimobil beserta om dan tantenya, ia ikut mudik dengan maksud agar tambah pengaaman dan mengisi waktu liburan yang biasanya melakukan sesuatu yang tidak jelas dikamarnya yang sepi dan yang terus setia ditemani para monster lumut dan monster jenggot. Terlintas keinginannya untuk melihat korban tabrakan yang terjadi antara mobil depan Nesa dengan mobil arah berlawanan. Kabar burung, ada seorang korban yang tewas langsung ditempat kejadian. Disitu, Nesa merinding merihat darah berceceran dijalanan. Mobil yang remuk, dan alangkah kagetnya ia melihat korban kecelakaan tersebut. Serasa darah Nesa tidak mengalir kembali, gambaran pucat hanya bisa dibiaskan dari mukanya. Ternyata korban tabrakan yang tewas itu adalah, pacar dari orang yang selama ini ia kagumi dan sukai, ya… pacar “Mister R”.
“Ha….” Bibir Nesa cuman berkata itu. No more. Dia shook, bingung mumet, nggak tau apa yang harus dilakukan.
Dia gemetar dan merasa bersalah. Ia masih saja bertanya-tanya pada sang pencipta kenapa ia harus dilihatin semuanya. Semuanya yang berhubungan dengan Mister R itu. Mulai dari hal-hal kecil, sampai hal yang mengerikan seperti ini. Sungguh dunia tak selebar daun kelor, begitu amat sempit.
Setelah pemakaman Elos di Jogja dan saat itu Nesa di Semarang. Terpaksa ia tidak ikut bertakjiah dirumah duka Elos. Entah cuman perasaan ngeri dan kasian yang mengapung dan memenuhi pikiran Nessa, bagai melihat banyak sampah yang menggenang dipermukaan sungai yang tenang. Banyak dan susah diurai.
Beberapa hari disana ia memutuskan untuk pulang. Ia amat sangat ingin melihat bagaimana keadaan “Mister R” disana. Sungguh tak menyangka ternyata perasaan tak enak beberapa waktu lalu yang hinggap dan merayap dibanaknya mungkin karena itu. Dan ia merasa pernah mengalami kejadian seperti ini. Mungkin inilah yang dinamakan De Javu. Barulah ia sasar Nessa percaya adanya De Javu.
oleh: KARTIKA WIJAYANTI
SMA N 1 SEWON
Tidak ada komentar:
Posting Komentar