Oeh: Kartika Wijayanti
‘H
|
ooooah,’ mulut Ema terbuka lebar-lebar. Matanya merah, badan lesu, tidak semangat. Begitulah balasan buat Ema yang semalaman suntuk menulis karangan untuk lomba dalam jurnalistik, sampai dipenghujung malam. Rasanya tidak ada gairah sedikit pun untuk menyimak pelajaran.
Ema tersentak dan kaget, ternyata dari tadi ia telah diperhatikan oleh si guru killer yang super judes sadis dan bermuka aneh itu. Spontan Ema keluar lalu cuci muka. Saat itu pelajaran PKn sedang berlangsung. Memang, kalau saja pelajaran PKn, Ema pasti tidak memperhatikan. Lantas hanya ada rasa malas dan pusing dipikirannya. Pasalnya setiap pelajaran itu, mereka selalu membahas permasalahan yang terjadi baru-baru ini sekitar dunia kepolitikan dan pemerintahan. Namanya juga pelajaran PKn yang memang perlu, tapi anehnya Ema tidak terlalu suka dengan pelajaran itu.
Ayahnya Ema merupakan salah seorang pengacara hukum yang terkenal didaerahnya. Sudah otomatis ayahnya tahu dan sangat mengenal tentang pasal-pasal yang berlaku. Terlebihnya untuk di bidang kewarganegaraan. Ayah Ema sangat menginginkan agar Ema bisa menjadi penerus atau bahkan kalau bisa melebihi pekerjaan ayahnya besok nantinya .Ayahnya sangat berharap begitu.
Iya, maafkan aku Ayah. Bukan maksud untuk tidak peduli. Tapi inilah kenyataan.
Ayah selalu memaksaku untuk unggul dibidang hokum dan PKn, akan tetapi tidak dengan hati ini.
Aku lebih suka untuk menulis. Ya… menulis. Bukan yang lain.
Bukan untuk berdebat, bukan untuk berpendapat, bukan untuk memperjuangkan tahta, dan bukan untuk membela sebuah kebenaran atau kebohongan.
Karena ini aku. Bukan kamu. Aku punya cita sendiri, dan bukan untuk dipaksa!
Aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku ingin menjadi Ema.
Ema menuliskan curahan hatinya disebuah buku kesayangannya.
Esok harinya, jantung Ema berdegup tak menentu. Ia was-was. Bagaimana tidak karangan tulisan yang ia tulis sampai larut malam kemarin sudah di lombakan dan pengumuman pemenangnya hari ini. Ia berharap bisa menang, bisa membawa nama sekolahnya.
Saat istirahat hp kesayangannya berdering, terlihat satu pesan di terima, ia buka pesannya. Terlihat sebuah nomor asing. Lalu apa yang terjadi?
Ema terkejut. Dibenaknya ada rasa tak karuan. Rasa senang, bangga, dan rasa bersalah.
“Hah??? Apa? Yang benar saja. Horaaaaaaaay!,” Ema teriak senang.
“Kenapa kamu Ma? Sakit? Atau gila?,” Tanya kerabat dekatnya, Nadia.
“Ini lho, tapi aku nggak yakin deh.”
“Apaan? Bikin penasaran aja!”
“Aku menang lomba karya jurnalistik, tulis karangan.”
“Whaaats…??,” mendengar itu Nadia melongo heran.
“Iya, nih kalau tidak percaya!,” Ema sodorkan hpnya pada Nadia untuk membaca pesan itu.
“Eh, iya. Wooow…. Selamat ya pret?”
“Ya ampun, dalam situasi seperti ini masih aja panggil aku kampret? Haduh!
Iya iya, makasih ya?,” balas Ema.
Tapi Ema masih tidak yakin, lalu ia telephone nomor asing tadi. Dan ternyata benar, Ema menang lomba karya tulis karangan itu.
Akhirnya teman-teman sekolah dan ayahnya tahu kalau Ema mempunyai bakat untuk menulis. Ayahnya sempat kecewa, tapi akhirnya ayahnya terima dengan kenyataan bahwa Ema anaknya memang unggul dibidang jurnalistik dibandingkan bidang hue kum maupun kewarganegaraan seperti apa yang ayahnya inginkan.
Kini ayahnya banggakepada Ema dan mengizinkan Ema untuk mengembangkan bakat menulisnya. Hal itu dilakukan karena sebuah hati dan keinginan seseorang itu tidak bisa dibohongi apalagi dipaksa.
Agustus 2011
hahaha, ceritanya menarik banget. bagus lhooo
BalasHapus